Pengetahuan Karawitan Jawa 2

 "Mengenal Lebih Dekat Dengan Karawitan Jawa" II



   Dalam karawitan terdapat dua laras, yaitu laras slendro dan laras pelog. Slendro adalah laras dalam karawitan di mana dalam satu gembyangan (oktaf) dibagi menjadi lima nada dengan interval yang sama rata. Sedangkan pelog merupakan laras dalam karawitan di mana dalam satu gembyangan (oktaf) terdapat tujuh nada dengan interval yang berbeda-beda. Penyebutan nada-nada tersebut dalam praktek permainan gamelan menggunakan istilah bahasa Jawa. Penyebutan nada untuk Slendro adalah : 1 (ji) siji / barang ; 2 (ro) loro / jangga ; 3 (lu) telu / dhadha ; 5 (ma) lima / lima ; 6 (nem) enem. Penyebutan nada untuk Pelog adalah : 1 (ji) siji / bem ; 2 (ro) loro / jangga ; 3 (lu) telu / dhadha ; 4 (pat) papat ; 5 (ma) lima / lima ; 6 (nem) enem ; 7 (pi) pitu / barang pelog. Berikut ini adalah gambaran jarak nada dalam karawitan. Slendro ! 1 gembyangan (oktaf) Pelog ! 1 gembyangan (oktaf) Pengenalan Instrumen Gamelan Ageng Seperangkat gamelan Ageng terdiri dari beberapa instrumen, di antaranya:  Istilah laras dalam hal ini dapat disetarakan dengan nada.

       Pathet dalam karawitan Jawa sangatlah penting dalam menentukan tinggi rendahnnya wilayah nada.   Pada bahasan terdahulu diketahui bahwa dalam karawitan terdapat dua laras, yaitu slendro dan pelog. Setiap laras tersebut mempunyai beberapa pathet. Laras slendro mempunyai tiga pathet, yaitu pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura. Sedangkan untuk laras pelog mempunyai tiga pathet yaitu pathet lima, pathet nem, dan pathet barang. Sebenarnya sampai saat ini belum ada definisi tentang pathet yang memuaskan. Kata pathet masih didefinisikan dalam berbagai sudut pandang. Hubungan dengan tata gendhing, pathet adalah tugas nada dalam setiap gembyangan (oktaf). Bagi masyarakat umum, Martopangrawit, Pengetahuan Karawitan I (Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia, 1975), 7.

     Memuaskan juga. Lain halnya dengan dunia pedalangan, seorang dalang memandang pathet sebagai pembagian waktu. Sebagai contoh, slendro pathet nem dibunyikan pada bagian awal pertunjukan wayang (antara pukul ), slendro pathet sanga dibunyikan antara pukul , slendro pathet manyura dibunyikan antara pukul bagi seorang yang suka nembang (bernyanyi dengan lagu Jawa), pathet adalah tinggi rendah nada. Contoh, apabila dalam pathet sanga nada terasa terlalu besar, maka dapat diubah menjadi pathet manyura. Semoga penjelasan tentang pathet dapat memberi gambaran bagi kita, walaupun dapat ditafsirkan bermacam-macam. BENTUK GENDHING Menurut istilah Jawa, gendhing merupakan jalinan nada-nada yang membentuk sebuah lagu. Dalam karawitan terdapat beberapa bentuk gendhing, yaitu dari bentuk sederhana sampai pada bentuk yang rumit.  Untuk materi pengetahuan karawitan Jawa. sala satu yang akan dipelajari adalah kategori Gendhing Alit. Sebelum dibahas lebih lanjut tentang bentuk gendhing, maka akan disajikan pedoman penulisan notasi maupun istilah yang akan digunakan. Gendhing biasanya ditulis dengan notasi kepatihan atau notasi angka. Notasi ditulis dalam beberapa kelompok sesuai dengan panjang dan pendek gendhing. Setiap kelompok terdiri dari empat angka. Selanjutnya, tiap kelompok angka ini disebut gatra. Contoh: Periksa Raden Lurah Wulan Karahinan, Gendhing-Gendhing Mataraman Gaya Yogyakarta dan Cara Menabuh (Yogyakarta: Kawedanan Hageng Punakawan Kridha Mardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat), 4-5.


Komentar

Postingan populer dari blog ini