Pengetahuan Karawitan Jawa I


"Mengenal Lebih Dekat Dengan Karawitan Jawa"

        


           Karawitan merupakan kata benda yang terbentuk dari etimologi kata “rawit” yang  berarti 

 sesuatu  yang  halus,  berbelit-belit,  dikerjakan  dengan  proses  yang cermat, mendetail dan bisa

 dikatakan rumit. Istilah Karawitan digunakan untuk menyebut suatu bentuk kesenian istana di pulau

 Jawa yang mengarah pada nuansa “tradisional”.  Di Indonesia, karawitan dianggap  sebagai  salah

 satu  bentuk  tinggi  dari  kesenian  Jawa  tradisional.  Kata “karawitan”  khususnya  lebih  mengacu

 atau  familiar  kepada  musik  gamelan. Karawitan  juga  digolongkan  dalam  kelompok  cabang  seni

 suara  dengan  media gamelan.  Dengan  begitu,  Karawitan  dalam  pengertian  yang  lebih  sempit

 dalam hubungannya  dengan  tata  gending  adalah  salah  satu  cabang  seni  suara  yang

 menggunakan  laras  slendro  dan  pelog,  baik  suara  manusia   maupun  suara gamelan sebagai

 instrumennya. Seni karawitan merupakan salah satu seni yang tumbuh subur di kalangan masyarakat

          Jawa dan sering dikaitkan dengan ranah lingkup seni pertunjukan yang lain, seperti tari, wayang (kulit

 dan orang), ketoprak, dan lain-lain.

 Di Indonesia, khususnya pulau Jawa, beragam gaya dikenal dalam karawitan. Gaya ini berhubungan

 dengan wilayah di mana karawitan berkembang. Adapun di antaranya adalah karawitan gaya

 Yogyakarta, gaya Surakarta, gaya Banyumas, gaya Surabayan (Jawa Timuran), gaya Sunda, gaya Bali,

 dan sebagainya.

               Berbagai macam gaya tadi mempunyai karakteristik atau ciri-ciri yang khusus, baik dalam jenis

 gendhing, gamelan, maupun cara memainkannya. Untuk gaya Yogyakarta, akan lebih difokuskan dan

 dipelajari lebih lanjut dalam catatan ini. 1 Istilah ini diinterpretasikan sebagai suatu hal yang rumit dan

 berbelit-belit. Poerwadarminta dan Roorda berpendapat bahwa kata rawit atau krawit selain berarti

 nama sejenis cabai kecil yang pedas, juga berarti halus dan cantik, berliku-liku, dan enak. Periksa

 J.F.C. Gericke en T. Roorda, Javaansch-Nederlandssch Handwoordenboek (Leiden: Boekhandel en

               Drukkerij voorheen E.J. Brill, 1901), 346. Periksa pula W.J.S. Poerwadarminta, Baoesastra Djawa,

 (Batavia: Groeningen, 1939), 249 dan Periksa Jeniffer Lindsay, Klasik, Kitsch, dan Kontemporer

 Sebuah Studi Tentang Seni Pertunjukan Jawa. Terjemahan Nin Bakdi Sumanto (Yogyakarta: Gadjah

 Mada University Press, 1991), Dikembangkan dari Martopangrawit, Pengetahuan Karawitan I

 (Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia, 1975),

           Gamelan merupakan alat musik atau instrumen yang digunakan dalam bermain karawitan. Gamelan

terbagi menjadi dua, 1) gamelan Pakurmatan; 2) gamelan Ageng. Gamelan Pakurmatan dibagi menjadi

empat jenis, yakni: 1. Gamelan Kodhok Ngorek (terdiri dari 4 nada) 2. Gamelan Monggang (terdiri dari 3 nada) 3. 

Gamelan Carabalen (terdiri dari 4 nada) 4. Gamelan Sekaten (terdiri dari 5 nada) Gamelan Ageng

adalah gamelan yang paling lengkap dan sering dijumpai dalam masyarakat. 

Gamelan Ageng yang paling baik terbuat dari bahan dasar perunggu, yaitu campuran antara timah putih 

dan tembaga dengan takaran 3:10/ tiga:sedasa (disingkat dua suku kata akhir menjadi gasa ).

           Istilah gasa ini kemudian sering diucapkan gangsa dan juga digunakan untuk menyebut istilah lain dari

gamelan (Gamelan=Gangsa). Selain dari bahan baku perunggu, dapat juga dibuat dari bahan singen

(perunggu cor), kuningan, dan besi. Seperangkat gamelan Ageng 4 Istilah Gangsa digunakan untuk

menyebut gamelan dalam tingkat tutur bahasa Jawa yang lebih tinggi/halus (krama/krama inggil).

          Dalam tradisi istana, istilah gangsa jauh lebih sering diucapkan.Sebagai contoh untuk menyebut 

gamelan milik raja biasa disebut dengan Kagungan Dalem Gangsa Gamelan ada pula yang terbuat dari  

bambu, biasa dikenal dengan sebutan gamelan Krumpyung yang  berkembang di wilayah kabupaten 

Kulonprogo, Yogyakarta. Gamelan bambu juga terdapat dalam gamelan gaya Banyumas yang disebut 

Calung. Begitu pula di daerah Banyuwangi dan Bali. Beberapa  eksperimen telah menemukan gamelan 

yang terbuat dari gerabah (tanah liat) dan keramik di daerah 

Kasongan, Bantul Yogyakarta.




https://docplayer.info/41287267-Karawitan-apa-itu-karawitan.html



Komentar

Postingan populer dari blog ini